Obesitas bukan sekadar “berat badan naik”, tetapi kondisi medis kronis yang dapat memicu (atau memperberat) banyak penyakit—mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan lemak darah, sleep apnea, masalah sendi, hingga gangguan psikis seperti stres dan kecemasan.
Di Indonesia, PAPDI merilis Konsensus Tata Laksana Multidisiplin Obesitas pada Dewasa 2025 sebagai rujukan yang lebih komprehensif—bukan hanya “diet dan olahraga”, melainkan langkah bertahap, terukur, dan melibatkan berbagai profesi kesehatan.
Artikel ini merangkum apa saja yang berubah (dan apa yang makin ditekankan) dalam tata laksana obesitas dewasa berdasarkan konsensus tersebut, dengan bahasa yang mudah dipahami.
1. Paradigma Baru: Targetnya Bukan Hanya Turun Angka Timbangan
Salah satu penekanan penting dalam Konsensus PAPDI 2025 adalah bahwa target terapi obesitas tidak berhenti pada penurunan berat badan, tetapi juga menurunkan risiko penyakit terkait obesitas dan meningkatkan kualitas hidup.
Artinya, keberhasilan program tidak selalu harus “turun banyak”, melainkan dapat dilihat dari:
tekanan darah lebih terkontrol;
gula darah/HbA1c membaik;
lingkar pinggang menurun;
napas lebih lega (gejala sleep apnea berkurang);
nyeri sendi berkurang dan aktivitas harian membaik.
Konsensus juga menekankan target yang realistis, yaitu 0,5–1,0 kg per minggu, dengan target awal turun 5–10% dari berat badan awal dalam 6 bulan pertama.
2. Indikasi Terapi Makin Jelas: Siapa yang Sebaiknya Mulai Program Terstruktur?
Di banyak kasus, seseorang baru “serius” saat obesitasnya sudah berat. Konsensus ini lebih tegas mengenai kapan terapi terstruktur perlu dimulai.
Terapi nutrisi, latihan fisik, dan terapi perilaku kognitif diindikasikan pada individu dengan:
IMT ≥ 25 kg/m², atau
IMT ≥ 23 kg/m² disertai salah satu dari:
obesitas sentral (lemak perut);
komorbid (misalnya hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, sindrom metabolik);
komplikasi terkait obesitas (misalnya penyakit jantung koroner, stroke, GERD, osteoartritis, OSAS, dan lain-lain);
stres psikososial atau gangguan psikosomatik terkait obesitas.
Perubahan di praktik: makin banyak orang dengan IMT “belum terlalu tinggi”, tetapi sudah memiliki lemak perut atau komorbid, tetap dianggap perlu program yang serius—bukan menunggu kondisi memburuk.
3. Target Lebih Berorientasi Komplikasi (Bukan Hanya IMT)
Selain target umum 5–10%, PAPDI 2025 juga merangkum target penurunan berat badan berdasarkan komplikasi.
Contoh yang sering relevan:
Prediabetes/diabetes melitus tipe 2: target sering perlu 10–15% atau lebih untuk hasil metabolik yang lebih bermakna.
OSAS/OHS (sleep apnea/obesity hypoventilation): dapat memerlukan 10–20% atau lebih.
GERD: sekitar 10% atau lebih untuk membantu perbaikan gejala.
Perubahan utamanya: program tidak lagi “satu resep untuk semua”. Target disesuaikan dengan masalah kesehatan utama yang ingin diperbaiki.
4. Intervensi Gaya Hidup Tetap Fondasi, tetapi Makin Rapi dan Terukur
Konsensus menegaskan tiga komponen utama terapi nonobat:
terapi nutrisi,
aktivitas/latihan fisik,
terapi perilaku kognitif.
Hal-hal yang makin ditekankan:
A. Diet Sangat Rendah Kalori Tidak untuk “Coba-coba”
Diet rendah kalori atau sangat rendah kalori dapat efektif, tetapi harus diobservasi oleh tim medis, maksimal 12 minggu, dengan perhatian pada hidrasi dan risiko berat badan naik kembali.
B. Intermittent Fasting Boleh, tetapi Ada Catatan
Intermittent fasting (misalnya 16:8 atau 5:2) dibahas sebagai opsi pola makan, tetapi tidak disarankan untuk populasi tertentu, misalnya diabetes melitus tipe 2 berat dengan fluktuasi gula darah yang tinggi.
C. Pemanis Buatan Tidak Direkomendasikan untuk Tujuan Turun Berat Badan
Ini poin yang sering mengejutkan. PAPDI 2025 menyatakan pemanis buatan tidak direkomendasikan sebagai upaya penurunan berat badan, karena tidak membantu kontrol jangka panjang dan dapat meningkatkan risiko komplikasi terkait obesitas.
D. Aktivitas Fisik untuk Maintenance Lebih Jelas
Untuk pencegahan obesitas, dianjurkan 45–60 menit aktivitas intensitas sedang per hari.
Untuk menurunkan atau mempertahankan penurunan berat badan, dianjurkan 60–90 menit per hari.
5. Farmakoterapi (Obat) Makin Diakui, dengan Aturan Main yang Tegas
Di masyarakat, “obat diet” sering dianggap otomatis berbahaya. Konsensus PAPDI 2025 membahas farmakoterapi sebagai bagian tata laksana, tetapi dengan indikasi jelas, evaluasi ketat, dan pengawasan dokter.
Kapan Obat Dipertimbangkan?
Terapi obat dapat diindikasikan bila:
IMT ≥ 30 kg/m², atau
IMT ≥ 25 kg/m² dengan komorbiditas,
dan/atau terdapat kegagalan terapi nonmedikamentosa.
Kapan Obat Dievaluasi atau Dihentikan?
Respons terapi dievaluasi. Bila setelah 3 bulan tidak tercapai penurunan berat badan yang memadai (contohnya ambang ≥5% sebagai acuan respons), strategi perlu dievaluasi dan dapat dipertimbangkan perubahan atau penghentian.
Obat Apa Saja yang Dibahas?
Konsensus membahas beberapa agen, termasuk orlistat, serta perkembangan agen baru seperti liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide, dengan catatan ketersediaan dan izin dapat berbeda di tiap negara.
Perubahan di praktik: obat bukan “jalan pintas”, tetapi dapat menjadi alat bantu pada pasien terpilih, dengan target, pemantauan, dan keselamatan sebagai prioritas.
6. Intervensi Bariatrik: Bukan Lagi Opsi yang “Jauh”, tetapi Bertahap dan Pilihannya Makin Banyak
PAPDI 2025 menegaskan bahwa terapi intervensi metabolik/bariatrik dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien obesitas, dengan indikasi yang lebih jelas.
Indikasi tindakan bariatrik bila:
IMT ≥ 35 kg/m² dan gagal turun berat badan dengan metode nonobat + obat (dosis maksimal), atau
IMT ≥ 30 kg/m² dengan ≥1 komorbid terkait obesitas, dan gagal dengan metode nonobat + obat.
Konsensus juga membahas opsi nonoperatif (endoskopik) seperti:
balon intragastrik, sebagai terapi sementara atau bagi yang menolak/tidak memenuhi syarat operasi;
Endoscopic Sleeve Gastroplasty (ESG), untuk pasien yang tidak memenuhi syarat atau menolak operasi.
Perubahan penting: pilihan intervensi makin beragam, dan keputusan lebih bersifat shared decision, dengan mempertimbangkan risiko, komorbid, kesiapan, dan akses layanan.
7. Pendekatan Multidisiplin Makin Menjadi Standar: Bukan Kerja Dokter Sendirian
Konsensus menekankan bahwa tata laksana obesitas di fasilitas kesehatan tingkat lanjut sebaiknya dilakukan oleh tim multidisiplin untuk pendekatan yang komprehensif, misalnya penyakit dalam, gizi klinik, rehabilitasi medik/kedokteran olahraga, psikolog/psikiater, farmasi klinis, serta perawat terlatih.
Perubahan di praktik: obesitas diperlakukan seperti penyakit kronis lain—perlu tim, tindak lanjut, dan dukungan jangka panjang, bukan konsultasi sekali saja.
8. Selaras dengan PNPK Nasional: Fokus pada Stadium dan Komplikasi
Sebagai konteks, pemerintah juga menetapkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Obesitas Dewasa. Di PNPK, ditekankan bahwa diagnosis obesitas tidak hanya berdasarkan derajat IMT, tetapi juga stadium komplikasi (misalnya menggunakan Klasifikasi Edmonton), dan terapi berjalan dalam dua fase: penurunan berat badan lalu mempertahankan berat badan.
Ini menguatkan arah yang sama: obesitas ditangani secara bertahap, aman, efektif, terukur, dan berbasis bukti.
Ringkasnya: Apa yang Berubah dalam Praktik Harian?
Jika disederhanakan, Konsensus PAPDI 2025 mendorong pergeseran berikut:
Dari “turun berat badan sebanyak-banyaknya” menjadi “turun berat badan yang realistis + perbaikan komplikasi”.
Dari “diet dan olahraga saja” menjadi terapi bertahap (gaya hidup, perilaku, obat bila perlu, bariatrik bila sesuai indikasi).
Dari “sendirian” menjadi pendekatan multidisiplin dan tindak lanjut jangka panjang.
Ingin Diet yang Lebih Aman, Terukur, dan Realistis?
Jika kamu:
sudah mencoba diet tetapi berat badan naik-turun;
bingung harus mulai dari mana;
memiliki kolesterol tinggi, prediabetes, PCOS, GERD, atau sleep apnea;
atau kamu atlet/binaragawan yang butuh strategi turun lemak tanpa mengorbankan performa,
kamu bisa konsultasi diet dan strategi penurunan berat badan yang personal, realistis, dan berbasis evidence bersama tim kami di JabnBoost.id.
Kami bantu menyusun target (mulai dari 5–10% terlebih dahulu), pola makan yang cocok, strategi latihan, serta kebiasaan yang bisa dijalani jangka panjang—bukan diet ekstrem yang membuatmu mudah kambuh.

